
TEORI
BELAJAR AUSUBLE
(Disusun guna
memenuhi tugas Pengembangan Pembelajaran IPA SD)
Kelompok
5:
Istifar
Musyarafah (130210204030)
Reni
Candra Zahrotul Illiyin (130210204098)
Ni’matul
Hadian Azizah (130210204122)
Intan
Nur Halidayanti (130210204123)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN 2016
1. Teori
Belajar Ausuble
a. Belajar
Menurut Ausebel
Ausubel
mengklasifikasikan belajar kedalam dua demensi sebagai berikut:
1) Demensi-1,
tentang cara penyajian informasi atau materi kepada siswa. Demensi ini meliputi
belajar penerimaan yang menyajikan informasi itu dalam bentuk final dan belajar
penemuan yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh
materi yang diajarkan.
2) Demensi-2,
tentang cara siswa mengkaitkan materi yang diberikan dengan struktur kognitif
yang telah dimilikinya. Jika siswa dapat menghubungkan atau mengkaitkan
informasi itu pada pengetahuan yang telah dimilikinya maka dikatakan terjadi
belajar bermakna. Tetapi jika siswa menghafalkan informasi baru tanpa
menghubungkan pada konsep yang telah ada dalam struktur kognitifnya maka
dikatakan terjadi belajar hafalan.
Sehubungan dengan kedua demensi diatas,
Ausubel (dalam Hudoyo, 1988: 62) mengklasifikasikan empat kemungkinan type
belajar, yaitu belajar dengan penemuan bermakna, belajar dengan ceramah yang
bermakna, belajar penemuan yang tidak bermakna, dan belajar ceramah yang tidak
bermakna.
1. Belajar
dengan penemuan yang bermakna
Informasi yang dipelajari,
ditentukan secara bebas oleh peserta didik. Peserta didik itu kemudian
menghubungkan pengetahuan yang baru itu dengan struktur kognitif yang dimiliki.
Misalnya peserta didik diminta menemukan sifat-sifat suatu bujur sangkar.
Dengan mengaitkan pengetahuan yang sudah dimiliki, seperti sifat-sifat
persegi panjang, peserta didik dapat menemukan sendiri sifat-sifat bujur
sangkar tersebut.
2. Belajar
dengan penemuan tidak bermakna
Informasi
yang dipelajari, ditentukan secara bebas oleh peserta didik, kemudian ia
menghafalnya. Misalnya, peserta didik menemukan sifat-sifat bujur sangkar tanpa
bekal pengetahuan sifat-sifat geometri yang berkaitan dengan segiempat
dengan sifat-sifatnya, yaitu dengan penggaris dan jangka. Dengan alat-alat ini
diketemukan sifat-sifat bujur sangkar dan kemudian dihafalkan.
3. Belajar
menerima yang bermakna
Informasi
yang telah tersusun secara logis di sajikan kepada peserta didik dalam bentuk
final/ akhir, peserta didik kemudian menghubungkan pengetahuan yang baru itu
dengan struktur kognitif yang dimiliki. Misalnya peserta didik akan mempelajari
akar-akar persamaan kuadrat. Pengajar mempersiapkan bahan-bahan yang akan
diberikan yang susunannya diatur sedemikian rupa sehingga materi persamaan
kuadrat ter sebut dengan mudah ter’tanam’ kedalam konsep
persamaan yang sudah dimiliki peserta didik.
Karena pengertian persamaan lebih inklusif dari pada persamaan kuadrat,
materi persamaan tersebut dapat dipelajari peserta didik secara bermakna.
4. Belajar
menerima yang tidak bermakna
Dari
setiap tipe bahan yang disajikan kepada peserta didik dalam bentuk final.
Peserta didik tersebut kemudian menghafalkannya. Bahan yang disajikan tadi
tanpa memperhatikan pengetahuan yang dimiliki peserta didik.
Inti dari belajar Ausubel ini adalah
belajar penerimaan yang bermakna. Dikatakan Ausubel (dalam Hudoyo, 1988:62)
bahwa belajar dikatakan bermakna bila informasi yang akan dipelajari peserta
didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimilikinya. Dengan belajar
bermakna ini peserta didik menjadi kuat ingatannya dan transfer belajar mudah
dicapai
Menurut Ausubel (dalam Dahar, 1988:
142), bahwa prasyarat belajar bermakna adalah sebagai berikut:
1) Materi
yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial. Kebermaknaan materi tergantung
pada dua factor berikut:
a) Materi
harus memiliki kebermaknaan logis, yaitu merupakan materi yang nonarbitrar dan
substantive. Materi yang nonarbitrar adalah materi yang konsisten dengan yang
telah diketahui, sedangkan materi yang substantive adalah materi yang dapat
dinyatakan dalam berbagai cara tanpa mengubah artinya.
b) Gagasan-gagasan
yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif siswa. Dalam hal ini harus
diperhatikan pengalaman anak-anak, tingkat perkembangan intelektual mereka,
intelegensi dan usia.
2) Siswa
yang akan belajar harus bertujuan untuk melaksanakan belajar bermakna. Dengan
demikian siswa mempunyai kesiapan dan niat untuk belajar bermakna. Jadi tujuan
siswa merupakan faktor utama dalam belajar bermakna. Sebagaimana disimpulkan
oleh Rosser (dalam Dahar, 1988: 143) bahwa belajar bermakna dapat terjadi bila
memenuhi tiga komponen yaitu materi pelajaran harus bermakna secara logis,
siswa harus bertujuan untuk memesukkan materi itu kedalam struktur kognitifnya
dan dalam struktur kognitif siswa harus terdapat unsur-unsur yang cocok untuk
mengkaitkan atau menghubungkan materi baru secara nonarbitrar dan substantif.
Jika salah satu komponen tidak ada,maka materi itu akan dipelajari secara
hafalan.
Beberapa
Prinsip dalam teori belajar Ausubel
1) Advance
Organizer
Advance
Organizer mengarahkan para siswa ke materi yang akan dipelajari dan mengingatkan
siswa pada materi sebelumnya yang dapat digunakan dalam membantu menanamkan
pengetahuan baru. Advance Organizer dapat dianggap merupakan suatu pertolongan
mental dan disajikan sebelum materi baru (Dahar, 1988: 144)
2) Diferensiasi
Progresif
Selama
belajar bermakna berlangsung perlu terjadi pengembangan konsep dari umum ke khusus.
Dengan strategi ini guru mengajarkan konsep mulai dari konsep yang paling inklusif,
kemudian kurang inklusif dan selanjutnya hal-hal yang khusus seperti contoh
contoh setiap konsep. Sehubungan dengan ini dikatakan Sulaiman (1988:203) bahwa
diferensiasi progresif adalah cara mengembangkan pokok bahasan melalui
penguraian bahan secara heirarkis sehingga setiap bagian dapat dipelajari
secara terpisah dari satu kesatuan yang besar.
3) Belajar
Superordinat
Belajar
superordinat dapat terjadi apabila konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya
dikenal sebagai unsur-unsur dari suatu konsep yang lebih luas. Dinyatakan Dahar,
(1988:148) bahwa belajar superorninat tidak dapat terjadi disekolah, sebab sebagian
besar guru-guru dan buku-buku teks mulai dengan konsep-konsep yang lebih inklusif.
4) Penyesuaian
Integratif (Rekonsiliasi Integratif)
Menurut
Ausubel (Dahar, 1988: 148), selain urutan menurut diferensiasi progresif yang harus
diperhatikan dalam mengajar, juga harus diperlihatkan bagaimana konsep-konsep baru
dihubungkan dengan konsep-konsep yang superordinat. Guru harus memperlihatkan secara
eksplisit bagaimana arti-arti baru dibandingkan dan dipertentangkan dengan
artiarti sebelumnya yang lebih sempit dan bagaimana konsep-konsep yang
tingkatannya lebih tinggi mengambil arti baru. Untuk mencapai penyesuaian integratif,
materi pelajaran hendaknya disusun sedemikian rupa hingga dapat digerakkan
hierarki-heirarki konseptual ke atas dan ke bawah selama informasi disajikan.
Guru dapat mulai dengan konsepkonsep yang paling umum, tetapi perlu
diperlihatkan keterkaitan konsep-konsep subordinat dan kemudian bergerak
kembali melalui contoh-contoh ke arti-arti baru bagi konsep-konsep yang
tingkatannya lebih tinggi
5. Cara
Menerapkan Teori Belajar Ausubel
Untuk menerapkan
teori belajar Ausubel, Dadang Sulaiman menyarankan agar menggunakan dua fase
yaitu fase perencanan dan fase pelaksanaan. Fase perencanaan terdiri dari
menetapkan tujuan pembelajaran, mendiagnosis latar belakang pengetahuan siswa,
membuat struktur materi dan memformulasikan advance organizer. Fase
pelaksanakan terdiri darai advance organizer, diferensiasi progresif dan
rekonsiliasi integratif.
a. Fase
Perencanaan
1) Menetapkan
Tujuan Pembelajaran, tahapan pertama dalam kegiatan
perencanaan adalah menetapkan
tujuan pembelajaran. Model Ausubel ini dapat digunakan untuk mengajarkan
hubungan antara konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi. Sebagaimana
dikatakan Sulaiman (1988: 199), bahwa model Ausubel tidak dirancang untuk
mengajarkan konsep atau generalisasi, melainkan untuk mengajarkan “Organized
bodies of content” yang memuat bermacam konsep dan generalisasi.
2) Mendiagnosis
latar belakang pengetahuan siswa, model Ausubel ini meskipun dirancang untuk
mengajarkan hubungan antar konsep-konsep dan generalisasi generalisasi dan
tidak untuk mengajarkan bentuk materi pengajaran itu sendiri, tetapi cukup
fleksibel untuk dipakai mengajarkan konsep dan generalisasi, dengan syarat guru
harus menyadari latar belakang pengetahuan siswa, Efektivitas penggunaan model
ini akan sangat tergantung pada sensitivitas guru terhadap latar belakang
pengetahuan siswa, pengalaman siswa dan struktur pengetahuan siswa. Latar
belakang pengetahuan siswa dapat diketahui melalui pretes, diskusi atau
pertanyaan.
3) Membuat
struktur materi, membuat struktur materi secara hierarkis merupakan salah satu
pendukung untuk melakukan rekonsiliasi integratif dari teori Ausubel.
4) Memformulasikan
Advance Organizer, menurut Eggen(1979: 277), Advance organizer dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu:
a. mengkaitkan
atau menghubungkan materi pelajaran dengan struktur pengetahuan siswa,
b. mengorganisasikan
materi yang dipelajari siswa
Terdapat tiga macam organizer, yaitu
definisi konsep, generalisasi dan analogi
a) Definisi
konsep dapat merupakan organizer materi yang bermakna, bila materi tersebut
merupakan bahan pengajaran baru atau tidak dikenal oleh siswa. Untuk kemudahan
siswa, guru sebaiknya mengusahakan agar definisi dibuat dalam terminalogi yang
dikenal siswa.
b) Generalisasi
berguna untuk meringkas sejumlah informasi
c) Analogi
merupakan advance organizer yang paling efektif karena seringkali sesuai dengan
latar belakang siswa. Nilai analogi sebagai advance organizer tergantung pada
dua faktor yaitu(1)penguasaan atau pengetahuan siswa terhadap analogi itu, (2)
tingkat saling menunjang antara gagasan yang diajarkan dengan analogi yang
digunakan. Dengan analogi, motif dan minat siswa lebih baik dibandingkan dengan
generalisasi dan definisi konsep
b. Fase
Pelaksanaan
Setelah
fase perencanaan, guru menyiapkan pelaksanaan dari model Ausubel ini. Untuk
menjaga agar siswa tidak pasif miaka guru harus dapat mempertahankan adanya
interaksi dengan siswa melalui tanya jawab, memberi contoh perbandingan dan
sebaginya berkaitan dengan ide yang disampaikan saat itu guru hendaknya mulai
dengan advance organizer dan menggunakannya hingga akhir pelajaran sebagai
pedoman untuk mengembangkan bahan pengajaran. Langkah berikutnya adalah
menguraikan pokok-pokok bahan menjadi lebih terperinci melalui diferensiasi
progresif. Setelah guru yakin bahwa siswa mengerti akan konsep yang disajikan
maka ada dua pilihan langkah berikutnya yaitu:
1)
Menghubungkan atau
membandingkan konsep-konsep itu melalui rekonsiliasi integratif, atau
2)
melanjutkan dengan difernsiasi
progresif sehingga konsep tersebut menjadi lebih luas.
0 komentar:
Posting Komentar