analisis kurikulum 2013 dengan ktsp





 







PENGEMBANGAN DAN TELAAH KURIKULUM
KELAS C
(AnalisisKelebihan dan Kekurangan Kurikulum 2013 dengan KTSP)







Oleh :
Ni’matul Hadian Azizah
(130210204122)







PRODI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
1.                  Kelebihan dan kelemahan Kurikulum KTSP
KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan di Indonesia.KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP. Pada prinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL.
·         Kelebihan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)
1.      Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu bentuk kegagalan pelaksanaan kurikulum di masa lalu adalah adanya penyeragaman kurikulum di seluruh Indonesia, tidak melihat kepada situasi riil di lapangan, dan kurang menghargai potensi keunggulan lokal.
2.      Mendorong para guru, kepala sekolah, dan pihak manajemen sekolah untuk semakin meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan program-program pendidikan.
  1. KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan mengembangkan mata pelajaran tertentu yang akseptabel bagi kebutuhan siswa. Sekolah dapat menitikberatkan pada mata pelajaran tertentu yang dianggap paling dibutuhkan siswanya. Sebagai contoh daerah kawasan wisata dapat mengembangkan kepariwisataan dan bahasa inggris, sebagai keterampilan hidup.
  2. KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat. Karena menurut ahli beban belajar yang berat dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak.
  3. KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah plus untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan.
  4. Guru sebagai pengajar, pembimbing, pelatih dan pengembang kurikulum.
  5. Kurikulum sangat humanis, yaitu memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan isi/konten kurikulum sesuai dengan kondisi sekolah, kemampuan siswa dan kondisi daerahnya masing-masing.
  6. Menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman, kemampuan atau kompetensi terutama di sekolah yang berkaitan dengan pekerjaan masyarakat sekitar.
  7. Standar kompetensi yang memperhatikan kemampuan individu, baik kemampuan, kecakapan belajar, maupun konteks social budaya.
  8. Berbasis kompetensi sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap potensi-potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan.
  9. Pengembangan kurikulum di laksanakan secara desentralisasi (pada satuan tingkat pendidikan) sehingga pemerintah dan masyarakat bersama-sama menentukan standar pendidikan yang dituangkan dalam kurikulum.
  10. Satuan pendidikan diberikan keleluasaan untyuk menyususn dan mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasikan potensi sekolah kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah.
  11. Guru sebagai fasilitator yang bertugas mengkondisikan lingkungan untuk memberikan kemudahan belajar siswa.
  12. Mengembangkan ranah pengetahuan, sikap, dan ketrampilan berdasarkan pemahaman yang akan membentuk kompetensi individual.
  13. Pembelajaran yang dilakukan mendorong terjadinya kerjasama antar sekolah, masyarakat, dan dunia kerja yang membentuk kompetensi peserta didik.
  14. Evaluasi berbasis kelas yang menekankan pada proses dan hasil belajar.
  15. Berpusat pada siswa.
  16. Menggunakan berbagai sumber belajar.
  17. kegiatan pembelajaran lebih bervariasi, dinamis dan menyenangkan
Sedangkan kelemahan dari kurikulum KTSP adalah
  1. Kurangnnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan pendidikan yang ada. Minimnya kualitas guru dan sekolah.
  2. Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung sebagai kelengkapan dari pelaksanaan KTSP .
  3. Masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara komprehensif baik kosepnya, penyusunannya,maupun prakteknya di lapangan
  4. Penerapan KTSP yang merekomendasikan pengurangan jam pelajaran akan berdampak berkurangnya pendapatan guru. Sulit untuk memenuhi kewajiban mengajar 24 jam, sebagai syarat sertifikasi guru untukmendapatkan tunjangan profesi.
2.                  Kelebihan Dan Kelemahan Kurikulum 2013
Kelebihan Kurikulum 2013
  1. Siswa lebih dituntut untuk aktif, kreatif dan inovatif dalam setiap pemecahan masalah yang mereka hadapi di sekolah.
  2. Adanya penilaian dari semua aspek. Penentuan nilai bagi siswa bukan hanya didapat dari nilai ujian saja tetapi juga didapat dari nilai kesopanan, religi, praktek, sikap dan lain-lain.
  3. Munculnya pendidikan karakter dan pendidikan budi pekerti yang telah diintegrasikan ke dalam semua program studi.
  4. Adanya kompetensi yang sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional.
  5. Kompetensi yang dimaksud menggambarkan secara holistic domain sikap, ketrampilan, dan pengetahuan.
  6. Banyak kompetensi yang dibutuhkan sesuai perkembangan seperti pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan.
  7. Hal yang paling menarik dari kurikulum 2013 ini adalah sangat tanggap terhadap fenomena dan perubahan sosial. Hal ini mulai dari perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global.
  8. Standar penilaian mengarahkan kepada penilaian berbasis kompetensi seperti sikap, ketrampilan dan pengetahuan secara proporsional.
  9. Mengharuskan adanya remediasi secara berkala.
  10. Sifat pembelajaran sangat kontekstual.
  11. Meningkatkan motivasi mengajar dengan meningkatkan kompetensi profesi, pedagogi, sosial dan personal.
  12. Ada rambu-rambu yang jelas bagi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran (buku induk)
  13. Guru berperan sebagai fasilitator
  14. Diharapkan kreatifitas guru akan semakin meningkat
  15. Efisiensi dalam manajemen sekolah contohnya dalam pengadaan buku, dimana buku sudah disiapkan dari pusat
  16. Sekolah dapat memperoleh pendampingan dari pusat dan memperoleh koordinasi dan supervise dari daerah
  17. Pembelajaran berpusat pada siswa dan kontekstual dengan metode pembelajaran yang lebih bervariasi
  18. Penilaian meliputi aspek kognitif, afektif, psikomotorik sesuai proporsi
  19. Ekstrakurikuler wajib Pramuka meningkatkan karakter siswa terutama dalam kedisiplinan, kerjasama, saling menghargai, cinta tanah air dan lain-lain.

Kelemahan kurikulum 2013
  1. Guru banyak salah kaprah, karena beranggapan dengan kurikulum 2013 guru tidak perlu menjelaskan materi kepada siswa di kelas, padahal banyak mata pelajaran yang harus tetap ada penjelasan dari guru.
  2. Banyak sekali guru-guru yang belum siap secara mental dengan kurikulum 2013 ini, karena kurikulum ini menuntut guru lebih kreatif, pada kenyataannya sangat sedikit para guru yang seperti itu, sehingga membutuhkan waktu yang panjang agar bisa membuka cakrawala berfikir guru, dan salah satunya dengan pelatihan-pelatihan dan pendidikan agar merubah paradigm guru sebagai pemberi materi menjadi guru yang dapat memotivasi siswa agar kreatif.
  3. Kurangnya pemahaman guru dengan konsep pendekatan scientific
  4. Kurangnya ketrampilan guru merancang RPP
  5. Guru tidak banyak yang menguasai penilaian autentik
  6. Tugas menganalisis SKL, KI, KD buku siswa dan buku guru belum sepenuhnya dikerjakan oleh guru, dan banyaknya guru yang hanya menjadi plagiat dalam kasus ini.
  7. Tidak pernahnya guru dilibatkan langsung dalam proses pengembangan kurikulum 2013, karena pemerintah cenderung melihat guru dan siswa mempunyai kapasitas yang sama.
  8. Tidak adanya keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil dalam kurikulum 2013 karena UN masih menjadi factor penghambat.
  9. Terlalu banyak materi yang harus dikuasai siswa sehingga tidak setiap materi bisa tersampaikan dengan baik, belum lagi persoalan guru yang kurang berdedikasi terhadap mata pelajaran yang dia ampu.
  10. Beban belajar siswa dan guru terlalu berat, sehingga waktu belajar di sekolah terlalu lama.
  11. Timbulnya kecemasan khususnya guru mata pelajaran yang dihapus yaitu KPPI, IPA dan Kewirausahaan dan terancam sertifikasiya dicabut.
  12. Sebagian besar guru masih terbiasa menggunakan cara konvensional
  13. Penguasaan teknologi dan informasi untuk pembelajaran masih terbatas.
  14. Guru tidak tiap dengan perubahan
  15. Kurangnya kekmampaun guru dalam proses penilaian sikap, ketrampilan dan pengetahuan secara holistic.
  16. Kreatifitas dalam pengembangan silabus berkurang
  17. Otonomi sekolah dalam pengembangan kurikulum berkurang
  18. Sekolah tidak mandiri dalam menyikapi kurikulum
  19. Tingkat keaktifan siswa belum merata
  20. KBM umumnya saat ini mash konvensional
  21. Belum semua guru memahami sistem penilaian sikap dan ketrampilan.
  22. Menambah beban kerja guru.
  23. Citra sekolah dan guru akan menurun jika tidak berhasil menjalankan kurikulum 2013
  24. Pramuka menjadi beban bagi siswa yang tidak menyukai Pramuka, sehingga ada unsur keterpaksaan.























KAJIAN STRUKTUR KURIKULUM TAHUN 2006 DAN 2013
No
Kajian
Struktur Kurikulum 2006
Struktur Kurikulum 2013

1.
Mata Pelajaran
Memuat 8 mata pelajaran ( pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa indonesia, matematika, IPA, IPS, seni budaya dan keterampilan, pendidikan jasmanai olahraga dan kesehatan), muatan lokal, dan pengembangan diri
Terdiri dari Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Seni Budaya dan Prakarya, Pendidikan Jasmanai, Olahraga dan Kesehatan

2.
Kelompok Mata Pelajaran
a. kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;
b. kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;
c. kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;
d. kelompok mata pelajaran estetika;
e. kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.
Dikelompokkan menjadi 2 yaitu
1.) kelompok A terdiri dari 4 mata pelajaran untuk kelas I s.d. III dan 6 mata pelajaran untuk kelas IV s.d. VI.
2.) kelompok B terdiri dari 2 mata pelajaran muatan lokal
3.
Pembelajaran
Kelas I s.d. III dilaksanakan dengan pendekatan tematik
Kelas IV s.d. VI dilaksankan melalui pendekatan mata pelajaran
Kelas I s.d. VI dilaksanakan dengan pendekatan tematik integratif (mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema). Kecuali mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
4.
Beban belajar
-kelas I s.d. III adalah 29 s.d. 32 jam pembelajaran per minggu
-Kelas IV s.d. VI adalah 34 jam pembelajaran
-Kelas I 30 jam pembelajaran per minggu
-Kelas II 32 jam pembelajaran per minggu
-Kelas III 34 jam pembelajaran per minggu
-Kelas IV s.d. VI 36 jam pembelajaran per minggu

5.
Kompetensi Inti
Tidak ada kompetensi inti
1. Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual;
2. Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial;
3. Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan; dan
4. Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan.

6.
Kompetensi Dasar

1. kelompok 1: kelompok kompetensi dasar sikap spiritual dalam rangka menjabarkan KI-1;
2. kelompok 2: kelompok kompetensi dasar sikap sosial dalam rangka menjabarkan KI-2;
3. kelompok 3: kelompok kompetensi dasar pengetahuan dalam rangka menjabarkan KI-3; dan
4. kelompok 4: kelompok kompetensi dasar keterampilan dalam rangka menjabarkan KI-4.


TABEL MATA PELAJARAN DALAM KURIKULUM 2013








TABEL MATA PELAJARAN DALAM KURIKULUM 2006






























TABEL TEMA YANG DIGUNAKAN DALAM KURIKULUM 2013





























A.                Identifikasi Permasalahan Pembelajaran Pkn di Sekolah Dasar
Masalah yang ditemui dalam setiap pembelajaran memang sangat komplek. Masalah tersebut datangnya bisa dari kurikulum, guru, siswa, saranaprasarana, sumber belajar, dan lain-lain. Namun sayangnya banyak pendidik yang masih kurang peka terhadap permasalahan yang dihadapi.Berdasarkan pengalaman mengajar PKn, di sini penulis mencobamengidentifikasi permasalahan yang pernah penulis hadapi, yangmenyebabkan pembelajaran PKn cenderung kurang menarik, dianggap sepele,membosankan, dan bermacam-macam kesan negative lainnya.
Masalah-masalah tersebut antara lain:
1.      Kurikulum yang terlalu berat 
Konten atau muatan kurikulum PKn untuk tingkatSD terlalu tinggi dibandingkan dengan tingkat kemampuan anak usia SD.Misalnya saja untuk materi kelas VI SD semester II. Penulis ambil contoh Standar Kompetensi: 2 Memahami sistem pemerintahan Republik IndonesiaKompetensi Dasar: 2.1 Menjelaskan proses Pemilu dan Pilkada2.2 Mendeskripsikan lembaga-lembaga negarasesuai UUD 1945 hasil amandemen 2.3 Mendeskripsikan tugas dan fungsi pemerintahan pusat dan daerah. Materi-materi tersebut selain terlalu tinggi bagi siswa juga belum memiliki manfaat, urgensi, dan kegunaan bagi kehidupan siswa. Artinya kalaupun materi itu nanti dipelajari oleh siswa akhirnya sasaranya hanyapada aspek kognitif saja, tidak menyentuh kehidupan siswa.
2.      Kurangnya kemampuan dalam menangkap kata kunci dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar .
Dalam melakukan penelaahan terhadap SK dan KD selama ini penulis sendiri masih banyak kekeliruan. Akibatnya apa yang disampaikan menjadi salah sasaran. Kesalahan tersebut misalnya terjadi pada StandarKompetensi kelas VI semester I.Standar Kompetensi: 1 Menghargai nilai-nilai juang dalam prosesperumusan Pancasila sebagai Dasar NegaraKompetensi Dasar:1.1 Mendeskripsikan nilai-nilai juang dalam prosesperumusan Pancasila sebagai Dasar Negara1.2 Menceritakan secara singkat nilai kebersamaan dalam proses perumusan Pancasila sebagai DasarNegara1.3 Meneladani nilai-nilai juang para tokoh yang berperan dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara dalam kehidupan sehari-hari. Karena kesalahan dalam menangkap esensi dari SK dan KD makapembelajaran cenderung hanya mengarah pada pencapaian aspek kognitif.Seperti contoh SK dan KD di atas, selama ini penulis hanya menekankanpada bagaimana Proses Perumusan Pancasilanya saja (kognitif), sehingga ketika evaluasi pertanyaan yang muncul ya sekitar proses perumusan Pancasilanya, misalnya “siapa tokoh yang merumuskan, tanggal berapa,bagaimana bunyi rumusannya”. Kondisi semacam ini menyeababkan kompetensi yang diharapkan dicapai oleh siswa justru terabaikan, misalnya bagaimana siswa mampu bagaimana menghargai perbedaan pendapat dalam suatu musyawarah, dan bagaimana meneladani nilai juang para tokoh yang oleh siswa dapatdiaplikasikan dalam belajar. Dan ternyata ini juga terjadi pada tim penyusunsoal Ujian tingkat Kabupaten. Padahal kata kunci dari SK dan KD tersebut (Menghargai dan Nilai-Nilai Juang) maka pembelajaran akan menekankanpada aspek Afektif dan Perilaku siswa.
3.      Praktek mengajar konvensional
Pembelajaran PKn selama ini lebih banyak berlangsung dengan pendekatan konvensional. Selama pembelajaran guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dan Tanya jawab. Siswa hanya menjadi pendengar di dalam kelas, kemudian mengerjakan atau menjawab soal.Pembelajaran berlangsung monoton, dan guru menjadi satu-satunya sumber informasi. Selain itu, dalam pembelajaran jarang yang menggunakan media yang menunjang. Pembelajaran semacam ini jelas akan sangat membosankan dan tidak menarik
4.      Pembelajaran tidak realitas (kontekstual)
Materi PKn sebenarnya banyak yang bisa diajarkan sesuai realitas kehidupan siswa. Namun, dalam prakteknya karena sudah terbiasa mengajardengan ceramah, akhirnya,semua materi disajikan dalam bentuk ceramahdan Tanya jawab. Akibatnya apa yang didapat siswa sekedar apa yangdisampaikan oleh gurunya. Itupun kalau dapat terserap semua. Penulis ambilcontoh tentang materi kelas I semester II. Standar Kompetensi: 4 Menerapkan kewajiban anak di rumah dan disekolah
Kompetensi Dasar: 4.1 Mengikuti tata tertib di rumah dan di sekolah 4.2 Melaksanakan aturan yang berlaku di masyarakat
. Materi ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan siswa. Jika materi ini kemudian disajikan dengan ceramah saja, maka yang terjadi kemudian kompetensi yang terdapat dalam Standar Kompetensi tersebuttidak akan tercapai. Tujuan pembelajaran lagi-lagi hanya mengarah padapencapaian kemampuan kognitif. Padahal materi ini menuntut adanyaaplikasi, bukan sekedar teori atau penerapan, bukan hafalan.
5.      Mengajar berdasarkan buku teks (Textbook centre)
Buku teks selama ini menjadi pegangan wajib. Jika kita mengajarhanya mengandalkan buku teks saja (tanpa menggunakan RPP) maka arahdan sasaran pembelajaran menjadi tidak fokus.
6.      Evaluasi hanya mengarah pada aspek kognitif.
Sebagai dampak dari kesalahan dalam mengkap esensi SK dan KDserta penggunaan metode ceramah yang menjadi andalan, maka hasil belajaryang diharapkan akhirnya hanya bermuara pada pengetahuan. Padahal hasilbelajar seharusnya mencakup semua domain, yaitu kognitif, afektif, danpsikomotor.
B.                 Hasil Telaah pembelajaran PKN di SD
Sesuai dengan apa yang telah dikatakan pada artikel diatas, kita tidak bisa memungkiri bahwasanya setiap pembelajaran memiliki masalah-masalah, mulai masalah dari siswa bahkan sampai pada masalah kurikulum. Namun sedangkan pada pembelajaran PKn sendiri, pada artikel diatas dikatakan bahwa pembelajaran PKn cenderung kurang menarik dan membosankan. Pada kenyataannya pembelajaran PKn di SD , justru memiliki daya tarik siswa dalam  proses pembelajaran. Meskipun di beberapa sekolah masih ada beberapa guru yang mengajar menggunakan paradigma lama, dimana guru memberikan pengetahuan kepada siswa secara pasif dan mengajar dengan menggunakan metode ceramah.
Dikatakan juga, pembelajaran PKn dianggap sepele, untuk yang satu ini saya setuju. Karena dari berbagai contoh dilapangan, salah satunya :apabila pelajaran matematika tidak tuntas maka orang tuanya akan segera membawa anaknya untuk ikut les, sedangkan apabila pelajaran PKn anaknya tidak tuntas maka yang dikatakan orang tuanya adalah “ ya sudah nak, yang penting pelajaran matematika dan IPA mu tuntas, besok belajar lebih rajin lagi ya”. Padahal pada hakekatnya pelajaran PKn sangat penting karena manyangkut bagaimana kehidupan anak sehari-hari, mulai dari kegiatan sosialnya, norma yang berlaku dimasyarakat dan masih banyak lagi.
Selanjutnya beberapa masalah-masalah pembelajaran PKn yang diungkapkn pada artikel diatas, diantaranya :
1.      kurikulum yang terlalu berat.
Pada artikel diatas dikatakan bahwa kurikulum PKn untuk tingkatSD terlalu tinggi dibandingkan dengan tingkat kemampuan anak usia SD. Misalnya saja untuk materi kelas VI SD semester II. Dengan contohnya : Standar Kompetensi: 2 Memahami system pemerintahan Republik Indonesia. Kompetensi Dasar: 2.1 Menjelaskan proses Pemilu dan Pilkada. 2.2 Mendeskripsikan lembaga-lembaga Negara sesuai UUD 1945 hasil amandemen 2.3 Mendeskripsikan tugas dan fungsi pemerintahan pusat dan daerah. Materi-materi tersebut selaain terlalu tinggi bagi siswa juga belum memiliki manfaat, urgensi, dan kegunaan bagi kehidupan siswa. Artinya kalaupun materi itu nanti dipelajari oleh siswa akhirnya sasaranya hanya pada aspek kognitif saja, tidak menyentuh kehidupan siswa.
Kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang SD dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah dengan berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BNSP. Dalam lampiran permendiknas No. 22 Tahun 2006, kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip dintaranya relevan dengan kebutuhan kehidupan dan berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik serta lingkungannya. Apabila saya lihat dari contoh yang diambil pada artikel diatas memang itu terlalu berat untuk anak SD. Tapi yang perlku diingat adalah dalam KTSP memuat standar kompetensi dan kompetensi dasar, yang mana setiap guru harus mengembangkannnya secara otonomi dalam membelajarkan kepada siswa dengan memperhatikan kemampuan, lingkungan dimana sekolah sekolah itu berada.
2.      Kurangnya kemampuan dalam menangkap kata kunci dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Menurut artikel diatas, dalam melakukan penelaahan terhadap SK dan KD sering masih banyak kekeliruan, sehingga apa yang disampaikan menjadi salah sasaran. Dalam menelaah SK dan KD kita harus mampu melihat dan membaca dengan cermat apa yang diinginkan dalam SK dan KD tersebut. Kalau kita sudah mampu menangkap kata kuncinya maka akan kita rumuskan indikator apa yang menunjukkan pencapaian kompetensi itu. Tapi apabila kita salah dalam menangkap kata kunci pada SK dan KD maka akan sangat mempengaruhi perumusan tujuan dan evaluasi.
3.        Praktek mengajar konvensional
Saya setuju dengan artikel diatas karna memang masih banyak saya lihat guru-guru khususnya yang sudah tua mengajar dengan cara yang lama yaitu dengan metode ceramah sehingga,  siswa menjadi kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran dan cenderug tidak begitu tertarik dengan pelajaran PKn karena selama ini mereka menganggap pelajaran PKn sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata, dan kurang menekankan aspek penalaran sehingga menyebabkan rendahnya minat belajar PKn siswa di sekolah. Sebenarnya menurut saya salah satu masalah utama dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ialah penggunaan metode atau model pembelajaran dalam menyampaikan materi pelajaran secara tepat, agar dapat mendorong anak untuk ikut serta aktif dalam kegiatan pembelajaran, sehingga siswa dapat mengimplementasikan hakekat pendidikan nilai dalam kehidupan sehari-hari.
4.        Pembelajaran tidak realitas
Pada artikel diatas dikatakan bahwa, karna guru sudah terbiasa mengajar dengan ceramah akhirnya semua informasi disampaikan dengan metode ceramah dan tanya jawab. Menurut saya memang masih ada guru yang seperti itu, namun dari hasil observasi pembelajaran PKn di SD yang pernah  saya lakukan, mengajar dengan metode ceramah sudah mulai ditiadakan dan diganti dengan metode-metode lain yang lebih inovatif sehingga dapat memoivasi siswa dalam proses pembelajaran.
5.        Mengajar berdasarkan buku teks
Menurut saya belajar bukanlah berdasarkan buku teks, melainkan RPP. RPP memegang peranan penting bagi guru dalam mengajar. RPP bisa diibaratkan Kompas atau penunjuk arah bagi guru untuk menentukan  ke mana pembelajaran akan dibawa. Jika seorang guru mengajar tanpa menggunakan RPP dan hanya mengandalkan buku teks, maka yang akanterjadi adalah proses belajar yang tidak terarah dan fokusnya tidak jelas, karena apa yang disampaikan guru hanya apa yang ada dalam buku teks tersebut. Segalanya perlu dipersiapkan.
6.      Evaluasi hanya mengarah pada aspek kognitif
Evaluasi hanya menitik beratkan pada evaluasi saja. Padahal hasil belajar tidak hanya dari kemampuan kognitif saja melainkan juga dari aspek afektif dan psikomotor. Dalam pembelajaran PKn pengembangan nilai-nilai dan karakter harus jadi prioritas. Jadi tidak anak tidak hanya pandai dalam bidang akademik tapi juga diimbangii dengan karakter dan akhlak mulia.


0 komentar:

Posting Komentar

Recent comments

Recent Posts

Pages