![]() |
PENGEMBANGAN
DAN TELAAH KURIKULUM
KELAS
C
(AnalisisKelebihan dan
Kekurangan Kurikulum 2013 dengan KTSP)
Oleh :
Ni’matul Hadian Azizah
(130210204122)
PRODI
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN
ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
1.
Kelebihan dan kelemahan Kurikulum KTSP
KTSP atau Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang
disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan di Indonesia.KTSP secara
yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai
tahun ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar
Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang
diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor
22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang
dikeluarkan oleh BSNP. Pada prinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar
sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri. KTSP (Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan) terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan
pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender
pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP mengacu
pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL.
·
Kelebihan
KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)
1. Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam
menyelenggarakan pendidikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu bentuk
kegagalan pelaksanaan kurikulum di masa lalu adalah adanya penyeragaman
kurikulum di seluruh Indonesia, tidak melihat kepada situasi riil di lapangan,
dan kurang menghargai potensi keunggulan lokal.
2. Mendorong para guru, kepala sekolah, dan pihak
manajemen sekolah untuk semakin meningkatkan kreativitasnya dalam
penyelenggaraan program-program pendidikan.
- KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan mengembangkan mata pelajaran tertentu yang akseptabel bagi kebutuhan siswa. Sekolah dapat menitikberatkan pada mata pelajaran tertentu yang dianggap paling dibutuhkan siswanya. Sebagai contoh daerah kawasan wisata dapat mengembangkan kepariwisataan dan bahasa inggris, sebagai keterampilan hidup.
- KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat. Karena menurut ahli beban belajar yang berat dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak.
- KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah plus untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan.
- Guru sebagai pengajar, pembimbing, pelatih dan pengembang kurikulum.
- Kurikulum sangat humanis, yaitu memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan isi/konten kurikulum sesuai dengan kondisi sekolah, kemampuan siswa dan kondisi daerahnya masing-masing.
- Menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman, kemampuan atau kompetensi terutama di sekolah yang berkaitan dengan pekerjaan masyarakat sekitar.
- Standar kompetensi yang memperhatikan kemampuan individu, baik kemampuan, kecakapan belajar, maupun konteks social budaya.
- Berbasis kompetensi sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap potensi-potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan.
- Pengembangan kurikulum di laksanakan secara desentralisasi (pada satuan tingkat pendidikan) sehingga pemerintah dan masyarakat bersama-sama menentukan standar pendidikan yang dituangkan dalam kurikulum.
- Satuan pendidikan diberikan keleluasaan untyuk menyususn dan mengembangkan silabus mata pelajaran sehingga dapat mengakomodasikan potensi sekolah kebutuhan dan kemampuan peserta didik, serta kebutuhan masyarakat sekitar sekolah.
- Guru sebagai fasilitator yang bertugas mengkondisikan lingkungan untuk memberikan kemudahan belajar siswa.
- Mengembangkan ranah pengetahuan, sikap, dan ketrampilan berdasarkan pemahaman yang akan membentuk kompetensi individual.
- Pembelajaran yang dilakukan mendorong terjadinya kerjasama antar sekolah, masyarakat, dan dunia kerja yang membentuk kompetensi peserta didik.
- Evaluasi berbasis kelas yang menekankan pada proses dan hasil belajar.
- Berpusat pada siswa.
- Menggunakan berbagai sumber belajar.
- kegiatan pembelajaran lebih bervariasi, dinamis dan menyenangkan
Sedangkan kelemahan dari kurikulum KTSP adalah
- Kurangnnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan pendidikan yang ada. Minimnya kualitas guru dan sekolah.
- Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung sebagai kelengkapan dari pelaksanaan KTSP .
- Masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara komprehensif baik kosepnya, penyusunannya,maupun prakteknya di lapangan
- Penerapan KTSP yang merekomendasikan pengurangan jam pelajaran akan berdampak berkurangnya pendapatan guru. Sulit untuk memenuhi kewajiban mengajar 24 jam, sebagai syarat sertifikasi guru untukmendapatkan tunjangan profesi.
2.
Kelebihan Dan Kelemahan Kurikulum 2013
Kelebihan Kurikulum 2013
- Siswa lebih dituntut untuk aktif, kreatif dan inovatif dalam setiap pemecahan masalah yang mereka hadapi di sekolah.
- Adanya penilaian dari semua aspek. Penentuan nilai bagi siswa bukan hanya didapat dari nilai ujian saja tetapi juga didapat dari nilai kesopanan, religi, praktek, sikap dan lain-lain.
- Munculnya pendidikan karakter dan pendidikan budi pekerti yang telah diintegrasikan ke dalam semua program studi.
- Adanya kompetensi yang sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional.
- Kompetensi yang dimaksud menggambarkan secara holistic domain sikap, ketrampilan, dan pengetahuan.
- Banyak kompetensi yang dibutuhkan sesuai perkembangan seperti pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan.
- Hal yang paling menarik dari kurikulum 2013 ini adalah sangat tanggap terhadap fenomena dan perubahan sosial. Hal ini mulai dari perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global.
- Standar penilaian mengarahkan kepada penilaian berbasis kompetensi seperti sikap, ketrampilan dan pengetahuan secara proporsional.
- Mengharuskan adanya remediasi secara berkala.
- Sifat pembelajaran sangat kontekstual.
- Meningkatkan motivasi mengajar dengan meningkatkan kompetensi profesi, pedagogi, sosial dan personal.
- Ada rambu-rambu yang jelas bagi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran (buku induk)
- Guru berperan sebagai fasilitator
- Diharapkan kreatifitas guru akan semakin meningkat
- Efisiensi dalam manajemen sekolah contohnya dalam pengadaan buku, dimana buku sudah disiapkan dari pusat
- Sekolah dapat memperoleh pendampingan dari pusat dan memperoleh koordinasi dan supervise dari daerah
- Pembelajaran berpusat pada siswa dan kontekstual dengan metode pembelajaran yang lebih bervariasi
- Penilaian meliputi aspek kognitif, afektif, psikomotorik sesuai proporsi
- Ekstrakurikuler wajib Pramuka meningkatkan karakter siswa terutama dalam kedisiplinan, kerjasama, saling menghargai, cinta tanah air dan lain-lain.
Kelemahan kurikulum 2013
- Guru banyak salah kaprah, karena beranggapan dengan kurikulum 2013 guru tidak perlu menjelaskan materi kepada siswa di kelas, padahal banyak mata pelajaran yang harus tetap ada penjelasan dari guru.
- Banyak sekali guru-guru yang belum siap secara mental dengan kurikulum 2013 ini, karena kurikulum ini menuntut guru lebih kreatif, pada kenyataannya sangat sedikit para guru yang seperti itu, sehingga membutuhkan waktu yang panjang agar bisa membuka cakrawala berfikir guru, dan salah satunya dengan pelatihan-pelatihan dan pendidikan agar merubah paradigm guru sebagai pemberi materi menjadi guru yang dapat memotivasi siswa agar kreatif.
- Kurangnya pemahaman guru dengan konsep pendekatan scientific
- Kurangnya ketrampilan guru merancang RPP
- Guru tidak banyak yang menguasai penilaian autentik
- Tugas menganalisis SKL, KI, KD buku siswa dan buku guru belum sepenuhnya dikerjakan oleh guru, dan banyaknya guru yang hanya menjadi plagiat dalam kasus ini.
- Tidak pernahnya guru dilibatkan langsung dalam proses pengembangan kurikulum 2013, karena pemerintah cenderung melihat guru dan siswa mempunyai kapasitas yang sama.
- Tidak adanya keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil dalam kurikulum 2013 karena UN masih menjadi factor penghambat.
- Terlalu banyak materi yang harus dikuasai siswa sehingga tidak setiap materi bisa tersampaikan dengan baik, belum lagi persoalan guru yang kurang berdedikasi terhadap mata pelajaran yang dia ampu.
- Beban belajar siswa dan guru terlalu berat, sehingga waktu belajar di sekolah terlalu lama.
- Timbulnya kecemasan khususnya guru mata pelajaran yang dihapus yaitu KPPI, IPA dan Kewirausahaan dan terancam sertifikasiya dicabut.
- Sebagian besar guru masih terbiasa menggunakan cara konvensional
- Penguasaan teknologi dan informasi untuk pembelajaran masih terbatas.
- Guru tidak tiap dengan perubahan
- Kurangnya kekmampaun guru dalam proses penilaian sikap, ketrampilan dan pengetahuan secara holistic.
- Kreatifitas dalam pengembangan silabus berkurang
- Otonomi sekolah dalam pengembangan kurikulum berkurang
- Sekolah tidak mandiri dalam menyikapi kurikulum
- Tingkat keaktifan siswa belum merata
- KBM umumnya saat ini mash konvensional
- Belum semua guru memahami sistem penilaian sikap dan ketrampilan.
- Menambah beban kerja guru.
- Citra sekolah dan guru akan menurun jika tidak berhasil menjalankan kurikulum 2013
- Pramuka menjadi beban bagi siswa yang tidak menyukai Pramuka, sehingga ada unsur keterpaksaan.
KAJIAN STRUKTUR KURIKULUM TAHUN
2006 DAN 2013
No
|
Kajian
|
Struktur
Kurikulum 2006
|
Struktur
Kurikulum 2013
|
1.
|
Mata Pelajaran
|
Memuat 8 mata pelajaran ( pendidikan agama,
pendidikan kewarganegaraan, bahasa indonesia, matematika, IPA, IPS, seni
budaya dan keterampilan, pendidikan jasmanai olahraga dan kesehatan), muatan
lokal, dan pengembangan diri
|
Terdiri dari Pendidikan Agama dan Budi Pekerti,
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA,
IPS, Seni Budaya dan Prakarya, Pendidikan Jasmanai, Olahraga dan Kesehatan
|
2.
|
Kelompok Mata Pelajaran
|
a. kelompok mata pelajaran
agama dan akhlak mulia;
b. kelompok mata pelajaran
kewarganegaraan dan kepribadian;
c. kelompok mata pelajaran
ilmu pengetahuan dan teknologi;
d. kelompok mata pelajaran
estetika;
e.
kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan.
|
Dikelompokkan menjadi 2 yaitu
1.) kelompok A terdiri dari 4 mata pelajaran untuk
kelas I s.d. III dan 6 mata pelajaran untuk kelas IV s.d. VI.
2.) kelompok B terdiri dari 2 mata pelajaran muatan
lokal
|
3.
|
Pembelajaran
|
Kelas I s.d. III dilaksanakan dengan pendekatan
tematik
Kelas IV s.d. VI dilaksankan melalui pendekatan mata
pelajaran
|
Kelas I s.d. VI dilaksanakan dengan pendekatan
tematik integratif (mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata
pelajaran ke dalam berbagai tema). Kecuali mata pelajaran Pendidikan Agama
dan Budi Pekerti
|
4.
|
Beban belajar
|
-kelas I s.d. III adalah 29 s.d. 32 jam pembelajaran
per minggu
-Kelas IV s.d. VI adalah 34 jam pembelajaran
|
-Kelas I 30 jam pembelajaran per minggu
-Kelas II 32 jam pembelajaran per minggu
-Kelas III 34 jam pembelajaran per minggu
-Kelas IV s.d. VI 36 jam pembelajaran per minggu
|
5.
|
Kompetensi Inti
|
Tidak ada kompetensi inti
|
1.
Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual;
2.
Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial;
3.
Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan; dan
4.
Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan.
|
6.
|
Kompetensi Dasar
|
|
1. kelompok
1: kelompok kompetensi dasar sikap spiritual dalam rangka menjabarkan KI-1;
2.
kelompok 2: kelompok kompetensi dasar sikap sosial dalam rangka menjabarkan
KI-2;
3.
kelompok 3: kelompok kompetensi dasar pengetahuan dalam rangka menjabarkan
KI-3; dan
4.
kelompok 4: kelompok kompetensi dasar keterampilan dalam rangka menjabarkan
KI-4.
|
TABEL MATA PELAJARAN DALAM
KURIKULUM 2013

TABEL MATA PELAJARAN DALAM
KURIKULUM 2006




A.
Identifikasi
Permasalahan Pembelajaran Pkn di Sekolah Dasar
Masalah yang ditemui dalam setiap pembelajaran memang
sangat komplek. Masalah tersebut datangnya bisa dari kurikulum, guru, siswa,
saranaprasarana, sumber belajar, dan lain-lain. Namun sayangnya banyak pendidik
yang masih kurang peka terhadap permasalahan yang dihadapi.Berdasarkan
pengalaman mengajar PKn, di sini penulis mencobamengidentifikasi permasalahan
yang pernah penulis hadapi, yangmenyebabkan pembelajaran PKn cenderung kurang
menarik, dianggap sepele,membosankan, dan bermacam-macam kesan negative lainnya.
Masalah-masalah tersebut antara lain:
1.
Kurikulum yang terlalu berat
Konten atau muatan kurikulum PKn untuk tingkatSD
terlalu tinggi dibandingkan dengan tingkat kemampuan anak usia SD.Misalnya saja
untuk materi kelas VI SD semester II. Penulis ambil contoh Standar Kompetensi: 2 Memahami sistem pemerintahan Republik IndonesiaKompetensi Dasar:
2.1 Menjelaskan proses Pemilu dan Pilkada2.2 Mendeskripsikan lembaga-lembaga
negarasesuai UUD 1945 hasil amandemen 2.3 Mendeskripsikan tugas dan fungsi pemerintahan pusat dan daerah.
Materi-materi tersebut selain terlalu tinggi bagi siswa juga belum memiliki manfaat, urgensi, dan
kegunaan bagi kehidupan siswa. Artinya kalaupun materi itu nanti dipelajari oleh siswa akhirnya sasaranya
hanyapada aspek kognitif saja, tidak menyentuh kehidupan siswa.
2.
Kurangnya kemampuan dalam menangkap kata kunci
dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar .
Dalam melakukan penelaahan terhadap SK dan KD selama
ini penulis sendiri masih banyak kekeliruan. Akibatnya apa yang disampaikan
menjadi salah sasaran. Kesalahan tersebut misalnya terjadi pada
StandarKompetensi kelas VI semester I.Standar Kompetensi: 1 Menghargai
nilai-nilai juang dalam prosesperumusan Pancasila sebagai Dasar
NegaraKompetensi Dasar:1.1 Mendeskripsikan nilai-nilai juang dalam
prosesperumusan Pancasila sebagai Dasar Negara1.2 Menceritakan secara singkat
nilai kebersamaan dalam proses perumusan Pancasila sebagai DasarNegara1.3
Meneladani nilai-nilai juang para tokoh yang berperan dalam proses perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara dalam kehidupan
sehari-hari. Karena
kesalahan dalam menangkap esensi dari SK dan KD makapembelajaran cenderung
hanya mengarah pada pencapaian aspek kognitif.Seperti contoh SK dan KD di atas,
selama ini penulis hanya menekankanpada bagaimana Proses Perumusan Pancasilanya
saja (kognitif), sehingga ketika evaluasi pertanyaan yang muncul ya sekitar
proses perumusan Pancasilanya, misalnya “siapa tokoh yang merumuskan, tanggal
berapa,bagaimana bunyi rumusannya”. Kondisi semacam ini menyeababkan kompetensi
yang diharapkan dicapai oleh siswa justru terabaikan, misalnya bagaimana siswa
mampu bagaimana menghargai perbedaan pendapat dalam suatu musyawarah, dan
bagaimana meneladani nilai juang para tokoh yang oleh siswa dapatdiaplikasikan
dalam belajar. Dan ternyata ini juga terjadi pada tim penyusunsoal Ujian
tingkat Kabupaten. Padahal kata kunci dari SK dan KD tersebut (Menghargai dan
Nilai-Nilai Juang) maka pembelajaran akan menekankanpada aspek Afektif dan
Perilaku siswa.
3.
Praktek mengajar konvensional
Pembelajaran PKn selama ini lebih banyak berlangsung
dengan pendekatan
konvensional. Selama pembelajaran guru lebih banyak menggunakan metode ceramah
dan Tanya jawab. Siswa hanya menjadi pendengar di dalam kelas, kemudian mengerjakan atau menjawab
soal.Pembelajaran berlangsung monoton, dan guru menjadi satu-satunya sumber informasi. Selain itu, dalam
pembelajaran jarang yang menggunakan media yang menunjang. Pembelajaran semacam
ini jelas akan sangat membosankan dan tidak menarik
4.
Pembelajaran tidak realitas (kontekstual)
Materi PKn sebenarnya banyak yang bisa diajarkan
sesuai realitas kehidupan siswa. Namun, dalam prakteknya karena sudah terbiasa
mengajardengan ceramah, akhirnya,semua materi disajikan dalam bentuk ceramahdan
Tanya jawab. Akibatnya apa yang didapat siswa sekedar apa yangdisampaikan oleh
gurunya. Itupun kalau dapat terserap semua. Penulis ambilcontoh tentang materi
kelas I semester II. Standar Kompetensi: 4 Menerapkan kewajiban anak di rumah dan disekolah
Kompetensi Dasar: 4.1 Mengikuti tata tertib di rumah dan di sekolah 4.2 Melaksanakan aturan yang berlaku di masyarakat. Materi ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan siswa. Jika materi ini kemudian disajikan dengan ceramah saja, maka yang terjadi kemudian kompetensi yang terdapat dalam Standar Kompetensi tersebuttidak akan tercapai. Tujuan pembelajaran lagi-lagi hanya mengarah padapencapaian kemampuan kognitif. Padahal materi ini menuntut adanyaaplikasi, bukan sekedar teori atau penerapan, bukan hafalan.
Kompetensi Dasar: 4.1 Mengikuti tata tertib di rumah dan di sekolah 4.2 Melaksanakan aturan yang berlaku di masyarakat. Materi ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan siswa. Jika materi ini kemudian disajikan dengan ceramah saja, maka yang terjadi kemudian kompetensi yang terdapat dalam Standar Kompetensi tersebuttidak akan tercapai. Tujuan pembelajaran lagi-lagi hanya mengarah padapencapaian kemampuan kognitif. Padahal materi ini menuntut adanyaaplikasi, bukan sekedar teori atau penerapan, bukan hafalan.
5.
Mengajar berdasarkan buku teks (Textbook
centre)
Buku teks selama ini menjadi pegangan wajib. Jika kita
mengajarhanya mengandalkan buku teks saja (tanpa menggunakan RPP) maka arahdan
sasaran pembelajaran menjadi tidak fokus.
6.
Evaluasi hanya mengarah pada aspek kognitif.
Sebagai dampak dari kesalahan dalam mengkap esensi SK
dan KDserta penggunaan metode ceramah yang menjadi andalan, maka hasil
belajaryang diharapkan akhirnya hanya bermuara pada pengetahuan. Padahal
hasilbelajar seharusnya mencakup semua domain, yaitu kognitif, afektif,
danpsikomotor.
B.
Hasil Telaah pembelajaran PKN di SD
Sesuai dengan apa yang telah dikatakan pada artikel
diatas, kita tidak bisa memungkiri bahwasanya setiap pembelajaran memiliki
masalah-masalah, mulai masalah dari siswa bahkan sampai pada masalah kurikulum.
Namun sedangkan pada pembelajaran PKn
sendiri, pada artikel diatas dikatakan bahwa pembelajaran PKn cenderung kurang
menarik dan membosankan. Pada kenyataannya pembelajaran PKn di SD , justru memiliki daya tarik siswa dalam
proses pembelajaran. Meskipun di beberapa sekolah masih ada beberapa
guru yang mengajar menggunakan paradigma lama, dimana guru memberikan
pengetahuan kepada siswa secara pasif dan mengajar dengan menggunakan metode
ceramah.
Dikatakan juga, pembelajaran PKn dianggap sepele,
untuk yang satu ini saya setuju. Karena dari berbagai contoh dilapangan, salah satunya :apabila pelajaran
matematika tidak tuntas maka orang tuanya akan segera membawa anaknya untuk ikut les,
sedangkan apabila pelajaran PKn anaknya tidak tuntas maka yang dikatakan orang
tuanya adalah “ ya sudah nak, yang penting pelajaran matematika dan IPA mu tuntas, besok belajar lebih rajin lagi
ya”. Padahal pada hakekatnya pelajaran PKn sangat penting karena manyangkut bagaimana kehidupan anak sehari-hari,
mulai dari kegiatan sosialnya, norma yang berlaku dimasyarakat dan masih banyak
lagi.
Selanjutnya beberapa masalah-masalah pembelajaran PKn yang diungkapkn pada artikel
diatas, diantaranya :
1.
kurikulum yang terlalu berat.
Pada artikel diatas dikatakan bahwa kurikulum PKn
untuk tingkatSD terlalu tinggi dibandingkan dengan tingkat kemampuan anak usia
SD. Misalnya
saja untuk materi kelas VI SD semester II. Dengan contohnya : Standar
Kompetensi: 2 Memahami system pemerintahan Republik Indonesia. Kompetensi
Dasar: 2.1 Menjelaskan proses Pemilu dan Pilkada. 2.2 Mendeskripsikan
lembaga-lembaga Negara sesuai UUD 1945 hasil amandemen 2.3 Mendeskripsikan
tugas dan fungsi pemerintahan pusat dan daerah. Materi-materi tersebut selaain
terlalu tinggi bagi siswa juga belum memiliki manfaat, urgensi, dan kegunaan
bagi kehidupan siswa. Artinya kalaupun materi itu nanti dipelajari oleh siswa
akhirnya sasaranya hanya pada aspek kognitif saja, tidak menyentuh kehidupan
siswa.
Kurikulum tingkat satuan pendidikan
jenjang SD dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah dengan berpedoman pada
standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum
yang dibuat oleh BNSP. Dalam lampiran permendiknas No. 22 Tahun 2006, kurikulum
didasarkan pada prinsip-prinsip dintaranya relevan dengan kebutuhan kehidupan
dan berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta
didik serta lingkungannya. Apabila saya lihat dari contoh yang diambil pada
artikel diatas memang itu terlalu berat untuk anak SD. Tapi yang perlku diingat
adalah dalam KTSP memuat standar kompetensi dan kompetensi dasar, yang mana
setiap guru harus mengembangkannnya secara otonomi dalam membelajarkan kepada
siswa dengan memperhatikan kemampuan, lingkungan dimana sekolah sekolah itu
berada.
2.
Kurangnya kemampuan dalam menangkap kata kunci
dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Menurut artikel diatas, dalam melakukan penelaahan
terhadap SK dan KD sering masih banyak kekeliruan, sehingga apa yang
disampaikan menjadi salah sasaran. Dalam menelaah SK dan KD kita harus mampu
melihat dan membaca dengan cermat apa yang diinginkan dalam SK dan KD tersebut.
Kalau kita sudah mampu menangkap kata kuncinya maka akan kita rumuskan
indikator apa yang menunjukkan pencapaian kompetensi itu. Tapi apabila kita salah
dalam menangkap kata kunci pada SK dan KD maka akan sangat mempengaruhi
perumusan tujuan dan evaluasi.
3.
Praktek mengajar konvensional
Saya setuju dengan artikel
diatas karna memang masih banyak saya lihat guru-guru khususnya yang sudah tua
mengajar dengan cara yang lama yaitu dengan metode ceramah sehingga, siswa menjadi kurang aktif dalam kegiatan
pembelajaran dan cenderug tidak begitu tertarik dengan pelajaran PKn karena
selama ini mereka menganggap pelajaran PKn sebagai pelajaran yang hanya
mementingkan hafalan semata, dan kurang menekankan aspek penalaran sehingga
menyebabkan rendahnya minat belajar PKn siswa di sekolah. Sebenarnya menurut
saya salah satu masalah utama dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
(PKn) ialah penggunaan metode atau model pembelajaran dalam menyampaikan materi
pelajaran secara tepat, agar dapat mendorong anak untuk ikut serta aktif dalam
kegiatan pembelajaran, sehingga siswa dapat mengimplementasikan hakekat
pendidikan nilai dalam kehidupan sehari-hari.
4.
Pembelajaran tidak realitas
Pada artikel diatas dikatakan bahwa, karna guru sudah
terbiasa mengajar dengan ceramah akhirnya semua informasi disampaikan dengan
metode ceramah dan tanya jawab. Menurut saya memang masih ada guru yang seperti
itu, namun dari hasil observasi pembelajaran PKn di SD yang pernah saya lakukan, mengajar dengan metode ceramah
sudah mulai ditiadakan dan diganti dengan metode-metode lain yang lebih
inovatif sehingga dapat memoivasi siswa dalam proses pembelajaran.
5.
Mengajar berdasarkan buku teks
Menurut saya belajar bukanlah berdasarkan buku teks,
melainkan RPP. RPP memegang peranan penting bagi guru dalam mengajar. RPP bisa
diibaratkan Kompas atau penunjuk arah bagi guru untuk menentukan ke mana
pembelajaran akan dibawa. Jika seorang guru mengajar tanpa menggunakan RPP dan
hanya mengandalkan buku teks, maka yang akanterjadi adalah proses belajar yang
tidak terarah dan fokusnya tidak jelas, karena apa yang disampaikan guru hanya
apa yang ada dalam buku teks tersebut. Segalanya perlu dipersiapkan.
6.
Evaluasi hanya mengarah pada aspek kognitif
Evaluasi hanya menitik beratkan pada evaluasi saja.
Padahal hasil belajar tidak hanya dari kemampuan kognitif saja melainkan juga
dari aspek afektif dan psikomotor. Dalam pembelajaran PKn pengembangan
nilai-nilai dan karakter harus jadi prioritas. Jadi tidak anak tidak hanya
pandai dalam bidang akademik tapi juga diimbangii dengan karakter dan akhlak
mulia.
0 komentar:
Posting Komentar